"When
you walk through the storm
Hold your
head up high
And don't
be afraid of the dark
At the end
of the storm
There's a
golden sky
And the
sweet silver song of the lark
Walk on,
through the wind
Walk on,
through the rain
Though
your dreams be tossed and blown
Walk on,
walk on, with hope in your heart
And you'll
never walk alone
You'll
never walk alone
Walk on,
walk on, with hope in your heart
And you'll
never walk alone
You'll
never walk alone"
Kutipan
lyric diatas adalah lagu wajib para pendukung the kop yang terus dinyanyikan di
stadion Kemal Ataturk, Istanbul, Turki Pada malam itu. Meskipun dalam keadaan
terjepit akibat ketertinggalan 3 gol dari Ac milan, Para suporter tetap
bersemangat mendukung tim kesayangannya memenangkan laga Final UEFA Champions
League 2004/2005. Tak ingin mengecewakan para suporter mereka, para pemain
Liverpool pun berusaha sekuat tenaga untuk membalas ketertinggalan mereka. dan
selanjutnya apakah yang terjadi ?? Musim 2004-05 rasanya tidak ada partai yang
begitu dramatis selain laga final di Istanbul, Turki.
Final
edisi ke-50 ini menunjukan bahwa di dalam sepak bola tidak ada hal yang
mustahil. Liverpool berhasil menciptakan hal yang fantastis dan menunjukkan
semangat pantang menyerah dalam sepak bola (hal yang wajib di tiru). Mereka
sanggup mengejar ketertinggalan dan akhirnya memenangi laga. Langkah Liverpool
Menuju Stadion Olympiat Ataturk memang tidak menunjukkan peforma calon juara.
Terseok-seok di fase grup, Liverpool akhirmya lolos ke babak knock-out melalui
tendangan keras Gerrard saat mengalahkan Olympiakos di pertandingan terakhir.
Di fase ini, Leverkusen dan Juventus disingkirkan the Reds dengan susah payah.
di Semifinal, mereka pun memastikan tiket final setelah menyingkirkan Chelsea
dengan amat susah payah. The Reds lolos melalui gol tunggal Luis Garcia. Sampai
pada akhirnya mereka berhasil mencapai final pertama dalam 20 tahun terakhir
dan mengangkat trofi Liga Champions untuk kelima kalinya "We won it five
times in Istanbul".
KEAJAIBAN
SEPAKBOLA
Sepak Bola
memang bukan matematika. Liverpool menunjukan bukti nyata. Di 45 menit pertama,
Liverpool sudah tertinggal 3-0dari AC milan. Paolo maldini membuka keunggulan
Milan dengan mencetak gol tercepat dalam sejarah final Liga Champions. Kemudian
Hernan Crespo Menambah keunggulan I Rosonerri dengan dua golnya pada menit
ke-38 dan 43. skor pun bertahan sampai turun minum. Para pemain dan Suporter
The Reds tidak habis pikir timnya bisa ketinggalan jauh dari milan di babak
pertama. Dinding stadion Kemal Ataturk pun seperti setipis kertas. Dari kamar
ganti Liverpool, sorak sorai pemain AC Milan di ruangan yang berbeda begitu
jelas terdengar. Semua pemain Liverpool tertunduk lesu. Tak ada yang berani
menegakkan kepala. Tak mau disetir kemurungan, Rafael Benitez menghimpun nafas
dan berdiri di tengah para pemainnya. Sang manajer sadar, dia hanya punya waktu
15 menit untuk mengembalikan kepercayaan diri tim. Ketika berjalan dari bangku
cadangan menuju ruang ganti, benak Benitez dipusingkan mencari-cari kalimat
dalam bahasa Inggris yang tepat untuk "menghidupkan" para pemainnya.
Kalimat yang kemudian meluncur dari mulutnya sederhana saja. "Jangan
tundukkan kepala kalian. Kita Liverpool. Kalian bermain untuk Liverpool. Jangan
lupakan itu. Kalian harus tetap menegakkan kepala kalian untuk suporter. Kalian
harus melakukkannya untuk mereka", serunya. "Kalian tak pantas
menyebut kalian pemain Liverpool kalau kepala kalian tertunduk. Kalau kita
menciptakan beberapa peluang, kita berpeluang bangkit dalam pertandingan ini.
Percayalah kalian mampu melakukannya. Berikan kesempatan buat kalian sendiri
untuk keluar sebagai pahlawan." Sebelum tim keluar kamar ganti, Rafa
menyusun skema formasi baru di papan tulis. Untuk menghambat Kaka, Rafa meminta
Dietmar Hamann bersiap tampil menggantikan Djimi Traore. Namun, ketika
diberitahu Steve Finnan mengalami cedera, Benitez memanggil kembali Traore yang
sudah mencopot sepatu dan berjalan ke kamar mandi. Keputusan terakhir Finnan
keluar, Hamann masuk. Rafa sadar, tak ada lagi ruginya mengorbankan seorang
pemain bertahan. Liverpool bermain dengan tiga pemain belakang dan kapten
Steven Gerrard didorong lebih ke depan. Liverpool memang harus bangkit,
sekarang atau tidak sama sekali. Inilah lima belas menit yang menentukan. Lima
belas menit yang mengubah segalanya. The Reds berharap mereka dapat mencetak
gol cepat di babak kedua. Babak kedua menjadi milik Liverpool. Sembilan menit
berjalan, Liverpool menyulut sumbu ledak stadion.Gol yang diharapkan tersebut
baru datang pada menit ke-54. Berawal dari Umpan John Arne Riise dari sisi
kanan pertahanan Milan, Gerrard berhasil menyundul bola ke gawang Milan yang
dikawal Nelson dida. Dua menit kemudian, Vladimir smicer terus memperkecil
ketertinggalan The Reds Menjadi 3-2. Tendangannya dari luar kotak penalti
berhasil mengecoh Dida. Kondisi itu membuat Milan jadi tertekan. Kesempatan itu
dimanfaatkan Liverpool yang telah meningkatkan moralnya untuk menyamakan
kedudukan. Berawal dari serangan bali, Gerrard membawa bola menusuk jantung
pertahanan Milan. Gennaro Gatusso yang ikut mengejar kemudian menjatuhkan
Gerrad di dalam kotak penalti dan wasit Mejuto Gonzalez menunjuk titik putih,
Penalti! Awalnya, eksekusi Xabi Alonso sempat ditahan Dida, tapi bola muntah
langsung disambar Alonso tanpa bisa di hadang pemain Milan yang lain. Skor pun
Imbang 3-3. Cerita belum selesai. Kedudukan 3-3 bertahan hingga 90 menit.
Pertandingan diperpanjang hingga 30 menit, tapi tetap tak bisa menentukan
pemenang. Juara Liga Champions musim itu pun harus diselesaikan melalui babak
adu penalti. Sebelum "babak perjudian" itu dimulai, Jamie Carragher
datang menghampiri kiper Jerzy Dudek. Carra menyarankan Dudek agar melakukan
"sesuatu" untuk mengacaukan konsentrasi pemain Milan. Dudek langsung
teringat rekaman video yang pernah disaksikannya. Kaki spaghetti! Saat adu
penalti final Piala Champions 1984 melawan AS Roma, pendahulu Dudek, Bruce
Grobbelaar, memelintir-melintir kakinya. Entah memang berpengaruh atau tidak,
Grobbelaar berhasil membawa Liverpool menang dan merebut Piala Champions. Trik
yang sama dipakai Dudek ketika Andriy Shevchenko bertugas sebagai eksekutor
terakhir Milan. Terbukti, trik kuno itu berhasil. Tendangan Serginho, Andrea
Pirlo berhasil Digagalkan. dan tiba saatnya Shevchenko mengambil giliran.
Eksekusi Sheva mengarah ke tengah gawang dan dengan sebelah tangan, Dudek
menahannya. Liverpool pun merajai Eropa! Jerih payah fans Liverpool yang terus
menggemuruhkan dukungan untuk klub kesayangan mereka terbayar sudah! Liverpool
pun menang 3-2 dalam adu penalti .
Mukjizat
di Istanbul ini kemudian diabadikan dalam film Fifteen Minutes That Shook the
World. Betapa tidak, final Liga Champions musim itu sangat dramatis dan
membuktikan segalanya mungkin terjadi di lapangan sepakbola. Pascafinal
Istanbul, hidup tak lagi sama. Tapi, hidup juga berjalan terus. Satu per satu
figur pemain heroik, seperti Harry Kewell, Milan Baros, Djibril Cisse, Luis
Garcia, Dudek, dan Smicer meninggalkan Anfield dan melanjutkan karir di klub
baru. Sebagian tetap tinggal, terutama Gerrard. Sang kapten sempat
disebut-sebut akan hijrah ke Chelsea musim panas 2005 itu. Tapi, Istanbul
mengubah segalanya. "Bagaimana mungkin saya pindah setelah mengalami final
seperti ini?" ujar Steven Gerrard. "You'll Never Walk Alone...Arak-arakan
bus dengan atap terbuka dan kerumunan satu juta orang, 300 ribu di antaranya
memadati St George's Hall, suatu hari di Mei 2005, pasti takkan pernah
dilupakan Liverpudlian sepanjang masa". "aku dan semua pemain
berpikir pertandingan sudah berakhir setelah babak pertama. Kepala para pemain
semuanya tertunduk. Namun manajer kami berhasil menyemangati kami dan mengubah
taktik dengan baik," Steven Gerrard MBE






0 komentar:
Posting Komentar