Pages

Subscribe:

Senin, 03 Februari 2014

10 Keputusan Kontroversial Wasit





Keputusan kontroversial yang dilakukan oleh Mark Clattenburg saat Chelsea kontra Manchester United, kembali memberikan suatu penegasan bahwa wasit juga manusia yang tak luput dari kesalahan bahkan fatal. Sayangnya, kesalahan tersebut bisa mempengaruhi hasil pertandingan. Terkadang faktor kerja keras saja tidak cukup untuk memenangkan suatu pertandingan. Tentu diperlukan keberuntungan dan faktor X lainnya. Keputusan wasit bisa menjadi penentu siapa pemenang pertandingan. Wasit tidak jarang bersikap kontroversial dan dinilai berat sebelah. Sekalipun wasit utama dibantu oleh 2 orang asisten dan sekarang dibantu oleh 2 wasit garis gawang, tetap saja ia bisa melakukan kesalahan, apalagi jika bertugas dalam sebuah laga yang krusial dan penuh tekanan. Berikut Sundul.com menghadirkan daftar 10 keputusan wasit yang kontroversial dalam sejarah sepakbola hingga saat ini:

1.        1.     Clive Thomas – Brasil vs Swedia (Piala Dunia 1978)
Swedia secara mengejutkan mampu menahan Brasil dengan skor 1-1 hingga menjelang menit akhir pertandingan. Zico berhasil mencetak gol melalui sundulannya pada menit akhir pertandingan. Namun Thomas menganulir gol tersebut, bukan karena Zico melakukan pelanggaran, melainkan karena Thomas menyudahi pertandingan saat bola mengudara. Wasit asal Wales itu dicerca karena dinilai sangat tidak tepat dalam menyudahi pertandingan. Swedia pun meraih satu-satunya angka dari Brasil pada kompetisi tersebut.

2.     Charles Corver – Jerman Barat vs Perancis (Piala Dunia 1982)
Laga super ketat terjadi pada semifinal Piala Dunia 1982 yang bertempat di Sevilla, Spanyol. Pertandingan berjalan sangat keras menjurus kasar. Kiper Jerman Barat, Harald Schumacher bertabrakan dengan bek Perancis, Patrick Battiston. Namun itu bukanlah benturan biasa. Dalam tayangan ulang terlihat jelas Schumacher menyikut Battiston hingga mengalami koma. Battiston kehilangan 2 gigi depan dan patah tulang belakang. Saat itu perlengkapan medis di lapangan masih sederhana. Entah melihat atau tidak, Corver tidak mengganjar Schumacher dengan kartu apapun. Akhirnya Der Panzer memenangkan pertandingan via adu penalti dengan skor 5-4 atas Les Bleus. Seandainya wasit asal Belanda itu mengusir Schumacher, maka belum tentu Jerman Barat menang dan lolos ke final.
  
3.     Ali Bin Nasser - Argentina vs Inggris (Piala Dunia 1986)
Siapa yang tidak ingat dengan sebutan gol tangan tuhan ala Diego Maradona? Tentunya peristiwa historis itu tidak akan bisa dilupakan oleh siapapun, khususnya bagi publik sepakbola Inggris. Kalau Maradona dianggap sebagai pencipta gol tangan tuhan, maka AliBin Nasser dicap sebagai pengesah gol tangan tuhan. Argentina pun lolos ke semifinal karena mampu menaklukkan Inggris dengan skor 2-1. Kedua gol tersebut ditorehkan oleh Maradona. Seandainya wasit asal Tunisia itu menganulir gol tangan tuhan ala Maradona, maka belum tentu Argentina menang dan lolos ke semifinal.

4.     Byron Moreno – Korea Selatan vs Italia (Piala Dunia 2002)
Korea Selatan mendadak menjadi salah satu kekuatan baru di sepakbola dunia. Tapi banyak pihak yang menilai bahwa jalan Korsel untuk menuju perempat final, diluruskan oleh berbagai wasit termasuk Moreno, yang paling menonjol kontroversinya. Sejumlah keputusan wasit asal Ekuador itu, sangat menguntungkan bagi tuan rumah dan merugikan bagi Italia. Moreno disinyalir ingin membalaskan dendam karena negaranya dikalahkan oleh Italia 0-2 pada babak grup G Piala Dunia 2002. Akhirnya Korsel menang 2-1 atas Italia. Impian Paolo Maldini yang ingin pensiun dari Gli Azzurri usai menjuarai Piala Dunia 2002, ternyata harus kandas di babak 16 besar.

5.     Yung Joo Kim – Brasil vs Turki (Piala Dunia 2002)
Bintang Brasil saat itu, Rivaldo, mungkin menjadi pemain yang paling dibenci pada Piala Dunia 2002. Ia melakukan akting yang sangat buruk. Bek Turki, Hakan Unsal, bermaksud memberikan bola kepada Rivaldo dengan cara disepak. Namun Rivaldo meresponinya dengan cara berlebihan. Hebatnya, Yung Joo Kim yang berada tidak jauh dari posisi kejadian, termakan oleh akting Rivaldo tersebut hingga mengganjar kartu kuning kedua kepada Unsal. Mantan bintang Barcelona itu pun didenda sebesar 5.180 pound karena terbukti melakukan bentuk kecurangan. Tapi Rivaldo membela dirinya dengan mengatakan bahwa berpura-pura merupakan taktik untuk memenangkan pertandingan.

6.     Graham Poll – Kroasia vs Australia (Piala Dunia 2006)
Mungkin gelar wasit pelupa layak dianugrahkan kepada Poll. Ia mengganjar bek Kroasia, Josip Simunic, dengan kartu kuning sebanyak 3 kali sebelum mengusirnya. Wasit asal Inggris itu lupa untuk mengeluarkan Simunic pada ganjaran kartu kuning yang kedua. Uniknya, semua ofisial yang membantu Poll juga tidak menyadari hal tersebut. Akibat kecerobohannya yang memalukan, Poll diberhentikan dari Piala Dunia 2006. Kemudian Poll menyatakan pensiun dari tugas internasional, tapi masih bertugas di liga domestik Inggris.

7.     Martin Hansson – Perancis vs Rep. Irlandia (Play off Piala Dunia 2010)
Republik Irlandia yang kalah 0-1 dari Perancis pada leg pertama, mampu menyamakan agregat 1-1 saat bertandang. Mereka unggul sementara 1-0 atas Perancis dan bersiap melaju ke Piala Dunia 2010. Tapi nasib baik memihak Les Bleus. Thierry Henry yang sempat menahan bola dengan tangan, sukses mengirim bola kepada William Gallas untuk mencetak gol penyama kedudukan. Hansson gagal melihat bola yang sempat disentuh oleh Henry. Perancis pun unggul agregat 2-1 atas Republik Irlandia. Bahkan mantan bintang Arsenal itu ragu untuk merayakan kesuksesan mereka lolos ke Afrika Selatan. Sungguh malang bagi Republik Irlandia, impian mereka harus pupus secara ironis.

8.     Massimo Busacca – Afrika Selatan vs Uruguay (Piala Dunia 2010)
Busacca memang terkenal kontroversial. Gayanya yang tegas sama sekali tidak membuatnya menjadi arif dan bijaksana. Kali ini sang tuan rumah Piala Dunia 2010, Afrika Selatan, yang menjadi korban kontroversial Busacca. Luis Suarez yang sudah berada dalam posisi offside, dijatuhkan oleh kiper Afrika Selatan, Itumeleng Khune. Namun bukannya memberikan tendangan bebas kepada tuan rumah, Busacca malah memberikan penalti bagi Uruguay sekaligus mengusir Khune. Afrika Selatan yang sudah tertinggal 0-1, tidak mampu berbuat banyak dengan 10 pemain hingga akhirnya dipermalukan 0-3 oleh Uruguay.

9.     Marco Rodriguez – Cili vs Spanyol (Piala Dunia 2010)
Salah satu kemampuan terbaik Fernando Torres, ditunjukannya pada laga ini. Torres melakukan diving tepat sebelum Andres Iniesta mencetak gol. Dalam peraturan resmi FIFA, jika wasit melihat sebuah pelanggaran, maka seharusnya pertandingan dihentikan sementara untuk memberikan hukuman bagi sang pelanggar. Namun Rodriguez memberikan keuntungan ganda bagi Spanyol. Ia mengesahkan gol iniesta sekaligus mengganjar pemain Cili, Marco Estrada dengan kartu kuning kedua.

10.    Martin Atkinson – Chelsea vs Manchester United (Premier League 2011)
Kalau Howard Webb disinyalir sebagai pendukung United, maka Atkinson diduga kuat merupakan penggemar berat Chelsea. Atkinson bersikap lunak kepada The Blues pada pertandingan ini.

Kisah Dramatis Final Liga Champions di Istanbul



"When you walk through the storm
Hold your head up high
And don't be afraid of the dark
At the end of the storm
There's a golden sky
And the sweet silver song of the lark
Walk on, through the wind
Walk on, through the rain
Though your dreams be tossed and blown
Walk on, walk on, with hope in your heart
And you'll never walk alone
You'll never walk alone
Walk on, walk on, with hope in your heart
And you'll never walk alone
You'll never walk alone"


Kutipan lyric diatas adalah lagu wajib para pendukung the kop yang terus dinyanyikan di stadion Kemal Ataturk, Istanbul, Turki Pada malam itu. Meskipun dalam keadaan terjepit akibat ketertinggalan 3 gol dari Ac milan, Para suporter tetap bersemangat mendukung tim kesayangannya memenangkan laga Final UEFA Champions League 2004/2005. Tak ingin mengecewakan para suporter mereka, para pemain Liverpool pun berusaha sekuat tenaga untuk membalas ketertinggalan mereka. dan selanjutnya apakah yang terjadi ?? Musim 2004-05 rasanya tidak ada partai yang begitu dramatis selain laga final di Istanbul, Turki.

Final edisi ke-50 ini menunjukan bahwa di dalam sepak bola tidak ada hal yang mustahil. Liverpool berhasil menciptakan hal yang fantastis dan menunjukkan semangat pantang menyerah dalam sepak bola (hal yang wajib di tiru). Mereka sanggup mengejar ketertinggalan dan akhirnya memenangi laga. Langkah Liverpool Menuju Stadion Olympiat Ataturk memang tidak menunjukkan peforma calon juara. Terseok-seok di fase grup, Liverpool akhirmya lolos ke babak knock-out melalui tendangan keras Gerrard saat mengalahkan Olympiakos di pertandingan terakhir. Di fase ini, Leverkusen dan Juventus disingkirkan the Reds dengan susah payah. di Semifinal, mereka pun memastikan tiket final setelah menyingkirkan Chelsea dengan amat susah payah. The Reds lolos melalui gol tunggal Luis Garcia. Sampai pada akhirnya mereka berhasil mencapai final pertama dalam 20 tahun terakhir dan mengangkat trofi Liga Champions untuk kelima kalinya "We won it five times in Istanbul".

KEAJAIBAN SEPAKBOLA


Sepak Bola memang bukan matematika. Liverpool menunjukan bukti nyata. Di 45 menit pertama, Liverpool sudah tertinggal 3-0dari AC milan. Paolo maldini membuka keunggulan Milan dengan mencetak gol tercepat dalam sejarah final Liga Champions. Kemudian Hernan Crespo Menambah keunggulan I Rosonerri dengan dua golnya pada menit ke-38 dan 43. skor pun bertahan sampai turun minum. Para pemain dan Suporter The Reds tidak habis pikir timnya bisa ketinggalan jauh dari milan di babak pertama. Dinding stadion Kemal Ataturk pun seperti setipis kertas. Dari kamar ganti Liverpool, sorak sorai pemain AC Milan di ruangan yang berbeda begitu jelas terdengar. Semua pemain Liverpool tertunduk lesu. Tak ada yang berani menegakkan kepala. Tak mau disetir kemurungan, Rafael Benitez menghimpun nafas dan berdiri di tengah para pemainnya. Sang manajer sadar, dia hanya punya waktu 15 menit untuk mengembalikan kepercayaan diri tim. Ketika berjalan dari bangku cadangan menuju ruang ganti, benak Benitez dipusingkan mencari-cari kalimat dalam bahasa Inggris yang tepat untuk "menghidupkan" para pemainnya. Kalimat yang kemudian meluncur dari mulutnya sederhana saja. "Jangan tundukkan kepala kalian. Kita Liverpool. Kalian bermain untuk Liverpool. Jangan lupakan itu. Kalian harus tetap menegakkan kepala kalian untuk suporter. Kalian harus melakukkannya untuk mereka", serunya. "Kalian tak pantas menyebut kalian pemain Liverpool kalau kepala kalian tertunduk. Kalau kita menciptakan beberapa peluang, kita berpeluang bangkit dalam pertandingan ini. Percayalah kalian mampu melakukannya. Berikan kesempatan buat kalian sendiri untuk keluar sebagai pahlawan." Sebelum tim keluar kamar ganti, Rafa menyusun skema formasi baru di papan tulis. Untuk menghambat Kaka, Rafa meminta Dietmar Hamann bersiap tampil menggantikan Djimi Traore. Namun, ketika diberitahu Steve Finnan mengalami cedera, Benitez memanggil kembali Traore yang sudah mencopot sepatu dan berjalan ke kamar mandi. Keputusan terakhir Finnan keluar, Hamann masuk. Rafa sadar, tak ada lagi ruginya mengorbankan seorang pemain bertahan. Liverpool bermain dengan tiga pemain belakang dan kapten Steven Gerrard didorong lebih ke depan. Liverpool memang harus bangkit, sekarang atau tidak sama sekali. Inilah lima belas menit yang menentukan. Lima belas menit yang mengubah segalanya. The Reds berharap mereka dapat mencetak gol cepat di babak kedua. Babak kedua menjadi milik Liverpool. Sembilan menit berjalan, Liverpool menyulut sumbu ledak stadion.Gol yang diharapkan tersebut baru datang pada menit ke-54. Berawal dari Umpan John Arne Riise dari sisi kanan pertahanan Milan, Gerrard berhasil menyundul bola ke gawang Milan yang dikawal Nelson dida. Dua menit kemudian, Vladimir smicer terus memperkecil ketertinggalan The Reds Menjadi 3-2. Tendangannya dari luar kotak penalti berhasil mengecoh Dida. Kondisi itu membuat Milan jadi tertekan. Kesempatan itu dimanfaatkan Liverpool yang telah meningkatkan moralnya untuk menyamakan kedudukan. Berawal dari serangan bali, Gerrard membawa bola menusuk jantung pertahanan Milan. Gennaro Gatusso yang ikut mengejar kemudian menjatuhkan Gerrad di dalam kotak penalti dan wasit Mejuto Gonzalez menunjuk titik putih, Penalti! Awalnya, eksekusi Xabi Alonso sempat ditahan Dida, tapi bola muntah langsung disambar Alonso tanpa bisa di hadang pemain Milan yang lain. Skor pun Imbang 3-3. Cerita belum selesai. Kedudukan 3-3 bertahan hingga 90 menit. Pertandingan diperpanjang hingga 30 menit, tapi tetap tak bisa menentukan pemenang. Juara Liga Champions musim itu pun harus diselesaikan melalui babak adu penalti. Sebelum "babak perjudian" itu dimulai, Jamie Carragher datang menghampiri kiper Jerzy Dudek. Carra menyarankan Dudek agar melakukan "sesuatu" untuk mengacaukan konsentrasi pemain Milan. Dudek langsung teringat rekaman video yang pernah disaksikannya. Kaki spaghetti! Saat adu penalti final Piala Champions 1984 melawan AS Roma, pendahulu Dudek, Bruce Grobbelaar, memelintir-melintir kakinya. Entah memang berpengaruh atau tidak, Grobbelaar berhasil membawa Liverpool menang dan merebut Piala Champions. Trik yang sama dipakai Dudek ketika Andriy Shevchenko bertugas sebagai eksekutor terakhir Milan. Terbukti, trik kuno itu berhasil. Tendangan Serginho, Andrea Pirlo berhasil Digagalkan. dan tiba saatnya Shevchenko mengambil giliran. Eksekusi Sheva mengarah ke tengah gawang dan dengan sebelah tangan, Dudek menahannya. Liverpool pun merajai Eropa! Jerih payah fans Liverpool yang terus menggemuruhkan dukungan untuk klub kesayangan mereka terbayar sudah! Liverpool pun menang 3-2 dalam adu penalti .

Mukjizat di Istanbul ini kemudian diabadikan dalam film Fifteen Minutes That Shook the World. Betapa tidak, final Liga Champions musim itu sangat dramatis dan membuktikan segalanya mungkin terjadi di lapangan sepakbola. Pascafinal Istanbul, hidup tak lagi sama. Tapi, hidup juga berjalan terus. Satu per satu figur pemain heroik, seperti Harry Kewell, Milan Baros, Djibril Cisse, Luis Garcia, Dudek, dan Smicer meninggalkan Anfield dan melanjutkan karir di klub baru. Sebagian tetap tinggal, terutama Gerrard. Sang kapten sempat disebut-sebut akan hijrah ke Chelsea musim panas 2005 itu. Tapi, Istanbul mengubah segalanya. "Bagaimana mungkin saya pindah setelah mengalami final seperti ini?" ujar Steven Gerrard. "You'll Never Walk Alone...Arak-arakan bus dengan atap terbuka dan kerumunan satu juta orang, 300 ribu di antaranya memadati St George's Hall, suatu hari di Mei 2005, pasti takkan pernah dilupakan Liverpudlian sepanjang masa". "aku dan semua pemain berpikir pertandingan sudah berakhir setelah babak pertama. Kepala para pemain semuanya tertunduk. Namun manajer kami berhasil menyemangati kami dan mengubah taktik dengan baik," Steven Gerrard MBE


Senin, 27 Januari 2014

7 Pertandingan sepakbola paling menentukan dan dramatis sepanjang sejarah


1.   Liverpool vs Arsenal (0-2, Liga Inggris (1988/1989)


Seperti halnya laga Liga Inggris musim 2011/2012, pada musim 1988/1989 penentuan juara Liga Inggris ditentukan hingga laga terakhir. Saat itu Arsenal dan Liverpool bersaing memperebutkan gelar juara, dengan Liverpool berada di puncak klasemen. Secara kebetulan, kedua tim ini bertemu di anfield pada laga terakhir. Arsenal butuh kemenangan 2-0 untuk juara, dan mereka berhasil melakukannya lewat gol Alan Smith dan Michael Thomas. Lebih dramatis lagi, gol Thomas dicetak di menit terakhir!
2.   Liverpool vs Olympiakos (3-1, Liga Champions 2004/2005)

Liverpool tidak akan menjadi juara Liga Champions pada tahun 2005 jika tidak memenangi partai ini. Mereka butuh kemenangan dengan selisih 2 gol untuk lolos dari grup, namun justru Gerrard dan kawan- kawan tertinggal di babak pertama lewat tendangan bebas Rivaldo. Namun secara brilian Rafa Benitez mengubah strategi dengan memasukkan Florent Sinama-Pongolledan juga Neil Mellor. Hasilnya kedua pemain ini berhasil mencetak gol dan membuat Liverpool unggul 2-1. Akhirnya di sepuluh menit terakhir, Steven Gerrard mencetak gol penting lewat sepakan keras dari luar kotak penalti yang membuat anfield bergemuruh. Liverpool pun menang 3-1 dan lolos ke babak selanjutnya.

3.   AC Milan vs Liverpool (3-3, pen 2-3, Liga Champions 2004/2005)


Salah satu final Liga Champions paling dramatis sepanjang sejarah. Milan seperti akan menang mudah ketika mereka unggul 3-0 di babak pertama. Namun sekali lagi Liverpool memang memiliki semangat pantang menyerah. Dengan dukungan dari Liverpudlian dan nyanyian “You’ll Never Walk Alone” tanpa henti mereka berhasil comeback dan berhasil mencetak 3 gol hanya dalam rentang 6 menit! Di akhir laga, Jerzy Dudek bermain gemilang dengan menepis penalti Andrea Pirlo dan Andriy Shevchenko sehingga Liverpool berhasil juara Liga Champions 2005.

4.   Korea Selatan vs Italia (2-1, Piala Dunia 2002)


Partai ini cukup kontroversial karena sang wasit yang memimpin pertandingan yaitu Byron Moreno terlihat sangat memihak tuan rumah. Keputusan ini antara lain menganulir gol Italia yang dianggap offside, kemudian mengabaikan klaim penalti, dan terakhir mengusir Francesco Totti karena dianggap diving. Meskipun Italia unggul terlebih dahulu lewat Christian Vieri, namun pada akhirnya mereka tersingkir lewat gol Seol ki Hyeon menjelang waktu normal habis dan juga golden goal Ahn Jung Hwan.

5.   Turki vs Republik Ceska (3-2, Piala Eropa 2008)


Partai ini adalah partai terakhir di fase grup piala eropa. Pemenangnya akan mendampingi portugal yang telah lolos. Namun jika hasil seri yang terjadi maka akan terjadi perpanjangan waktu karena head-to-head dan selisih gol yang sama antara kedua tim. Republik Ceska sepertinya akan lolos setelah unggul 2-0 di satu jam pertama. Namun Turki bermain luar biasa sehingga bisa menyamakan skor 2-2. Saat sepertinya laga akan berlanjut hingga perpanjangan waktu, Nihat Kahveci membungkam para pendukung Ceska sehingga Turki menang 3-2 dan lolos ke babak selanjutnya.

6.   Chelsea vs Napoli (4-1, Liga Champions 2011/2012)


Partai ini adalah awal kebangkitan Chelsea dibawah Roberto Di Matteo. Kalah  1-3 di pertemuan pertama yang membuat Andre Villas-Boas dipecat, Chelsea tampil luar biasa untuk membalikkan keadaan hingga bisa membuat skor menjadi 3-1 hingga 90 menit. Lewat perjuangan tanpa kenal lelah, Branislav Ivanovic memastikan Chelsea menang 4-1 dan lolos ke perempat final.

7.   Manchester United vs Bayern Munich (2-1, Liga Champions 1998/1999)


Tidak diragukan lagi, laga ini adalah laga paling dramatis sepanjang sejarah. Tertinggal sejak menit keenam, MU mampu mencetak 2 gol dalam waktu 3 menit di masa injury time. Pendukung MU pun bersuka setelah berduka nyaris sepanjang pertandingan.